Harga emas bertahan di kisaran tertinggi dalam lima bulan terakhir, mencatatkan reli terpanjang sejak Februari. Kenaikan ini didorong oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi AS serta meningkatnya harapan investor terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Pada perdagangan awal Asia hari Rabu (6/8), harga emas stabil di sekitar $3.383 per ounce setelah naik lebih dari 3% dalam empat sesi sebelumnya.
Sentimen pasar terhadap emas semakin positif setelah data terbaru menunjukkan sektor jasa AS nyaris stagnan pada Juli. Sinyal pelemahan ekonomi juga terlihat dari laporan ketenagakerjaan dan belanja konsumen pekan lalu. Kekhawatiran ini mendorong spekulasi bahwa The Fed kemungkinan besar akan memangkas suku bunga pada pertemuan September, dengan peluang diperkirakan mencapai 90%.
Pemangkasan suku bunga biasanya menjadi katalis positif bagi emas, karena menurunkan opportunity cost untuk memiliki aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas. Sejauh tahun ini, harga emas telah naik hampir 30% karena investor mencari aset aman di tengah gejolak geopolitik, konflik dagang, dan menurunnya kepercayaan terhadap aset dalam denominasi dolar AS.
Namun, meskipun mengalami kenaikan signifikan secara tahunan, harga emas masih bergerak dalam rentang sempit dalam beberapa bulan terakhir dan belum mampu menembus rekor tertinggi sekitar $3.500 per ounce yang dicapai pada April. Pada pukul 08.19 waktu Singapura, harga emas tercatat stabil di $3.383,09 per ounce. Sementara itu, indeks dolar Bloomberg tidak banyak berubah, begitu pula dengan harga perak dan paladium, sedangkan platinum sedikit melemah.(ayu)
Sumber: Newsmaker.id
